Welcome....to Ana's little Journey

Blog EntrySelamat Jalan Mas Rino...Aug 8, '08 11:39 PM
for everyone
Berita itu ku terima jam 24.18 tadi malam. ”Mba ada berita penting!, kata Latifah, temanku di telemarketing. Ternyata kabar Mas Rino mennggal. Aku yang saat itu baru tidur jam 22.30 sontak kaget dan terbangun. Setelah bertanya pukul berapa meninggalnya, aku langsung sms berita itu ke semua temen-temen yang kenal dengan mas Rino. Entah kenapa, aku yang tidak terlalu kenal dekat dengan mas Rino, begitu sedih dan kehilangannya mendengar kabar itu.

Temanku Srikit, yang sempat menjenguknya waktu mas Rino sakit bilang, ”Mas Rino itu sempat datang ke kantor waktu hari Selasa (5/8/08), padahal dia harus transfusi darah ke RSCM.” Subhanallah, cerita yang mengalir tentang dia semuanya positif. ”Dia itu orang yang ga pernah mengeluh. Selalu tertawa dan sering bercanda,” ”Lagi sakit pun sempat-sempatnya tertawa. ”Malah, waktu kemarin ke kantor itu, pas ditanya, Mas Rino naik apa kesini?” dia bilang,”Wah mba saya naik taksi, ga kuat soalnya, ini aja gemetar badan saya, ” kata Srikit menirukan mas Rino.

Subhanallah sempat-sempatnya dalam kondisi sakit parah dan ia harus menjalani transfusi darah, ia menyempatkan ke kantor, dan ternyata itu hari terakhirnya untuk pamit dan bertemu dengan teman-teman di kantor. ”Mukanya bengkak waktu itu, badannya kurus,” kata Srikit lagi.

Mas Rino adalah supir pribadi pimpinan perusahaan tempatku bekerja. Dia sudah 7 tahun mendampingi Pak Ary dari mulai menjadi asisten pribadi, membantu Pak Ary di seminar-seminar sebelum training ESQ, sampai menjadi supir pribadi beliau. Selama itu ia dikenal orang yang tak pernah mengeluh. Bahkan dikenal ramah dengan setiap orang. Pak Ary pun sangat sayang dengannya. Namun, karena sakit Kanker Darah (Leukimia) yang menimpanya sejak 5 bulan lalu menyebabkan tugasnya digantikan orang lain.

Dan tadi malam, tepatnya Jumat malam, 8 -8- 2008, mas Rino meninggalkan kita semua dalam usia yang relatif muda, 34 tahun. Subhanallah. Dan menurut berita dari orang yang mengantar jenazahnya sebelum dibawa ke Tegal, peti mayatnya begitu enteng.  Dan menurut mereka,  mobil ambulans yang mengantarnya bernomor seri  B 7165.

Sambil membicarakan berita duka itu, selintas aku mendengar lagu yang dinyanyikan Opick :

Hidup di dunia hanyalah sebentar

Setiap pernbuatan kan mendapat balasan

Hidup di dunia hanyalah sejenak

Setiap pertaubatan kan mendapat ampunan

 

Allah yaa Rohman

Allah ya Rohim

Entah kenapa, tak seperti biasanya. Begitu mendengar bait syair ini, bulu kudukku merinding dan aku begitu takut dan khawatir. Bilakah kejadian mas Rino itu menimpaku?

 

 

 


Blog EntryNew Challenge 4 Me!Aug 5, '08 3:33 AM
for everyone

Berita itu baru kudengar kemarin. Sebuah ajakan untuk mengerjakan proyek buku. Satu pekerjaan yang awalnya dikerjakan oleh divisi lain dari perusahaan kami. Dan, karena adanya ’peleburan’ itu, divisiku dan divisi buku bersatu dalam satu payung. Dan otomatis, tugas dan proyek bukupun masuk ke divisiku. Dan otomatis pula, tugas-tugas menjadi bertambah.

Subhanallah...

Lucky i am...

Aku yang pecinta buku –dan untungnya atasanku tahu itu- meski sedikit kaget...aku menyambut gembira ketka kemarin atasanku menawarkanku ikut membantu proyek buku. Pasalnya, aku sebenarnya sudah  lama ingin bergabung di penerbitan buku. Dengan harapan, aku bisa merealisasikan cita-citaku menerbitkan buku yang tidak kelar-kelar. Yahh...dengan mata berbinar, aku menyanggupi tawaran tersebut. ”Bismillah...Pak saya coba.”

 

Hmm...ketika itu ada semburat bahagia aku bisa bergabung di ’dunia’ buku. Sampai-sampai aku tak memikirkan dan tak memperhatikan ketika atasanku menguraikan rencana judul-judul buku yang menjadi target kerja. Yahh...intinya...aku sangat senang bergabung di divisi baru.

 

Tapi, kemudian, akhirnya,...aku jg berpikir...bagaimana dengan pekerjaan ku yang sudah ada? Aku juga tak tahu ...akankah dishare dengan yang teman lain? Ataukah aku full mengerjakan tugas dan proyek buku saja? Ataukah aku mengerjakan keduanya? berbagai pertanyaan menggelayuti pikiranku...Langsung terbayang sederet tugas-tugas ku yang sudah ada : PJ enam kontributor, PJ rubrik Profil Penulis, PJ rubrik info buku, liputan dadakan dan juga PJ seminar dan ditambah lagi proyek buku yang juga punya waktu tenggat. Belum lagi,  ada satu proyek yang menurutku menjadi berat : menuliskan sesuatu yang ironis buatku.   Hmm...sanggupkah...?

Teringat lagi, targetku menyelesaikan draft buku yang masih menunggu goresan berikutnya untuk dituntaskan menjadi satu buku yang akan diterbitkan. Selesaikah? Pasalnya, aku adalah tipe pekerja yang harus fokus dan agak sulit untuk mengerjakan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sama apalagi kalau dikejar-kejar tenggat. Kadang kalau sedang deadline tingkat stressnya tinggi.

Yahh...sekali lagi, aku berusaha untuk tetap tersenyum. Dan agar tidak terlalu menjadi beban, ’berita gembira’ ini perlu disikapi dengan gembira juga. Anggap saja tantangan baru. Aku baru merasakan bagaimana -mungkin- stressnya teman-teman lain di divisiku yang sudah mengalami hal yan sama. Istilah atasanku, selingkuh dalam pekerjaan, alias nyambi-nyambi alias rangkap-rangkap dan entah apa lagi istilah lainnya.

Yahh....sekali lagi ayo tarik nafas dalam-dalam, kosongkan dan jernihkan pikiran, fokus, dan kerjakan satu-satu, dan dimulai dari yang paling mudah...

Bismillah Ana...chayoo..insya Allah ini menjadi akhir yang baik buatmu...dan yang paling penting asah potensi!

Pd. Pnang, 4 Agustus 08

 

 


Blog EntryGelisah...oh gelisah..Aug 2, '08 12:44 AM
for everyone

Hmm sejak bantuan itu….

Hmm sejak perjodohan itu…

Hmm sejak perkenalan itu…

Hmm sejak pertemuan itu…

 

Ada yang bermain dalam hati..

Ada rasa rindu yang menjalar...

Ada yang timbul dari pikiran..

Untuk berharap lebih dari itu...

 

Seiring berjalannya waktu

Setelah harapan yang pertama kandas...

 

Setelah lelah berjalan di ’trotoar’ itu...

Akhirnya aku menemukan titik terang itu...

Kutemui selain dirinya...

Tinggal waktu yang kan menjawab

Dan keyakinan dalam diri...akan sebuah kepastian

 

Ada yang bermain di hati..

Ada yang timbul di pikiran...

Ada yang melegakan keduanya..

Sebuah kepercayaan kalau Dia yang mengaturku...

 

 

27 Juli 2008


Blog EntryKebahagiaan yang sesungguhnya ada di sini! Aug 1, '08 12:52 AM
for everyone

Terkadang kita baru bisa bersyukur dan bahagia bila sudah merasakan penderitaan orang lain. Dua minggu lalu, aku berkesempatan berkunjung ke sekolah anak-anak di bilangan Bintara, Bekasi Barat. Sekolah yang berlokasi di tengah sampah-sampah dan rumah-rumah pemulung itu didirikan oleh salah seorang dokter perempuan. Subhanallah, ia bukan seorang ustadzah, tak mengenakan kerudung, dan tak hafal ayat-ayat Al Quran. Tapi, rasa pedulinya begitu tinggi. Ia mendirikan sekolah untuk anak-anak pemulung di tengah sampah-sampah dan rumah-rumah pemulung. Dan, sekolah itu hingga kini sudah berjalan delapan tahun. Sebuah komitmen spiritual yang luar biasa! Di tengah gunungan sampah-sampah, sarjana kedokteran Universitas Padjajaran itu konsisten untuk bergelut setiap hari dengan anak-anak pemulung di lokasi tersebut.

 

Ketika ditanya profesinya, mantan dokter yang pernah bertugas di Timor Timur itu mengatakan hanya berkomitmen untuk mengelola sekolah tersebut. Sekolah anak pemulung itu di beri nama ”Sekolah Kami”, dan kini berjumlah 127 orang anak pemulung.  Orangtua mereka kebanyakan berprofesi pemulung, tukang ojeg dan pedagang asongan. Awalnya, setelah bertugas di Timtim, Irina –begitu ia dipanggil- berinisiatif membantu anak-anak pengungsi korban bencana Tsunami. Ia ikut membantu mengajar anak-anak tersebut di barak-barak. Namun, dalam perjalanannya, ternyata ada penggusuran di sana-sini. Dan Irina –bekerjasama dengan rekannya yang bekerja di Departemen Pendidikan Nasional- meminjam tempat untuk mengajar. Namun, lagi-lagi, anak-anak itu diusir dan Irina harus kehilangan tempat. Akhirnya, setelah mencari sana-sini, Irina mendapatkan lokasi di sekitar rumah pemulung di Bintara. Irina juga membangun sekolah kami dengan disain artistik. ”Saya sengaja membuat seperti itu, agar mereka betah belajar, ” katanya. Maklum, anak-anak pemulung itu sudah terorientasi untuk mencari kerja. Jadi, setiap pagi mereka sekolah, dan siang harinya mereka”mulung” untuk membantu orangtuanya.

 

Tak hanya itu, Irina juga memberikan anak-anak pemulung itu makan, beras dan juga ketrampilan membuat tas, sabun dan menjahit. Itu dilakukannya agar mereka juga bisa mandiri setelah lulus sekolah. Dan untuk itu, Irina tak segan membuat Balai Latihan Kerja (BLK), wadah menyalurkan ketrampilan ketika mereka lulus sekolah. Tak cukup sampai disitu, Irina juga menggaji guru-guru secara profesional. ”Saya tak mau nantinya, ketika jadwal mereka ngajar, ada yang tidak masuk dengan alasan ini itu, ” kata Irina. Guru-guru itu banyak di ambil dari mahasiswa, sehingga Irina juga berkesempatan membantu menyediakan lapangan pekerjaan buat mahasiswa tersebut. Untuk itu, tak sedikit dana yang dikeluarkan dari kocek pribadinya. ”Ya, kalau kita mau berbuat baik kan tidak harus setengah-setengah dan tidak mesti pakai calo, ” katanya enteng. ”Dana yang dibutuhkan itu bisa mencapai 30-35 juta setiap bulannya, ” kata Endang Samino, salah seorang rekan Irina yang juga membantu mengelola sekolah tersebut.

 

Subhanallah, berulang kali aku mengucapkan kalimat itu. Tak hanya salut dan kagum atas kemauan dan kepedulian Irina mengelola sekolah pemulung itu, tapi juga kegigihan dan komitmennya.  Berapa banyak yang memiliki kemauan yang sama, tapi tak memiliki kegigihan dan komitmen . Dan itu dibuktikan Irina dalam delapan tahun. Murid-murinya sudah mencapai ratusan lebih. Dan insya Allah itu semua menjadi ladang amal baginya kelak. ”Allah tidka pernah meleset janjinya, dan semata-mata saya lakukan ini karena saya ingin dekat aja dengan Dia, " kata Irina mengakhiri.

 


Blog EntryLiburan Ke Tasik, Kenapa Enggak?Jul 1, '08 4:50 AM
for everyone

”Ide liburan ke tasik?” Aaah kurang seru, kurang greget, kurang nonjok..dan seterusnya dan seterusnya. Pasalnya, seperti ide sebelumnya bersama teman-teman kantor, aku sangat berharap untuk bisa pergi ke Anyer, menikmati indahnya pantai dan outbond yang disediakan. Hanya saja, karena tempatnya full booking, bosku menyarankan untuk berlibur ke Tasikmalaya. Disamping, dekat, budgetnya juga tidak terlalu mahal.

Awal sebelum jalan-jalan, aku pesimis banget. “Yah..Tasik, jauuuh,” kataku dalam hati. Aku yang sudah pernah merasakan lamanya berpergian ke Tasik itu merasa tidak interest untuk menyetujuinya.   Akhirnya, setelah kesepakatan bersama, jadi juga kami pergi ke sana. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu 6 jam lebih. Supir bus yang menyetir dengan ugal-ugalan membuat perjalananku tampak tidak menyenangkan. Perut mual kepala pusing. Namun, perjalanan yang melelahkan itu berakhir juga ketika kami tiba di desa Sindang Galih.

Di desa Sindang Galih, kami di ajak ke Saung Bu Ade. Melihat saung bu Ade di tengah kolam rasa pesimisku perlahan sirna. Saung itu dikelilingi sawah-sawah hijau. ”Hmm..segar juga pemandangannnya.” batinku. Apalagi setelah menyantap hidangan yang disuguhkan. ”Subhanallah.....masakannya juga enak banget. Sambil makan, aku memperhatikan Bu Ade dan kerabat sekitar sangat sibuk menghidang dan  melayani kami bak tamu agung. Mereka sangat ramah dan suasana jadi penuh kekeluargaan.

Esoknya, perjalanan dimulai dengan menyusuri pematang sawah menuju Gunung Cabe. Subhanallah, hamparan padi yang menghijau ..membuat mata jadi segar.” Aku sudah lama tidak menikmati pemandangan seperti ini. Suasana alam seperti ini yang kurindukan. ” Setelah sekitar 15 menit, kami sampai di Gunung Cabe. Disitu, sekali lagi terhampar pemandangan alam pegunungan yang indah dan menyegarkan mata. ”Hmm ternyata ga nyesel ke Tasik, ” batinku. Sambil menikmati Surabi dan Bandros, makanan khas Tasik, kami mendengarkan uraian mengenai pengobatan tradisional dari Ustad Lukman Sudjani. Pak Haji –begitu ustad Lukman dipanggil- sudah berpengalaman dalam mengobati penyakit bahkan pernah diminta mengobati hingga ke Yaman. Dari uraian Pak Haji, aku mengetahui sedikit tentang pengobatan tradisional. Ternyata di alam ini sudah tersedia obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit.

Lebih lanjut, dari Gunung Cabe kami langsung bertolak ke Gunung Galunggung. Tujuan kami adalah : Kawah Baru dengan menyusuri 620 anak tangga! Awalnya, aku sempat takut dan khawatir tidak bisa sampai ke atas. Namun, perlahan-lahan (sambil berfoto-foto narsis ria) tak terasa sampai juga kami di puncak kawah. Dan, yang lebih mencengangkan adalah pemandangan kawah dengan danau yang indah. Di dalam kawah itu terdapat danau berwarna hijau berbentuk pulau. Subhanallah ...aku menghirup udara sedalam-dalamnya. ”Hmm segar sekali.” Saat itu, pikiranku tenang dan darahku mengalir lancar. Dari situ, dapat dilihat pemandangan seantero kota Tasikmalaya. Menyaksikan kebesaran-Nya yang terhampar di alam, aku terpana dan berkali-kali berzikir, Subhanallah. Dan kini, rasa pesimis untuk pergi ke Tasik benar-benar pupus. ”Wah ini sih ga rugi kesini. Malah sepertinya ga mau pulang, ” batinku lagi.

Apalagi, setelah itu merasakan pemandian air panas di Cipanas.  ”Hmm air panas yang mengalir di tubuh membuat rileks otot dan pikiran. Rasanya penat yang bertahun-bertahun langsung hilang.”  Benar-bener ga nyesel,” kataku lagi.

Setelah itu, kami digiring untuk memancing ikan di kolam. Wah, seru juga ya baru mancing dapet ikan. Ada kepuasan tersendiri rasanya. Begitu pula teman-teman yang lain,  tampak menikmati aktivitas yang sangat jarang kami lakukan ketika di Jakarta itu. Bahkan, temanku Hanafi dapat 10 ikan. Dan dia tampaknya sangat ketagihan sampai-sampai setelah sampai di penginapan, masih melanjutkan memancing dikolamnya Bu Ade.

Yahh..intinya, persepsi ku tentang ide liburan ke Tasik kurang seru salah besar. Ide ke Tasik ternyata sangat cerdas! Bukan hanya refreshing, tapi juga belajar banyak. Bagaimana belajar fokus di pematang sawah, bagaimana bisa bersyukur dengan alam, juga yang tak kalah pentingnya meniru kesabaran dan keramahtamahan milik penduduk desa Sindang Galih. Luar biasa! Tasikmalaya...wait me there again....

27-29 Juni 2008


Blog EntrySeru Deru Pilih Laptop Jun 16, '08 6:45 AM
for everyone

Hmm,…ajang pameran komputer bener2 bikin orang mabuk kepayang. Sebagai pengidam laptop sejak beberapa tahun lalu, pameran komputer akbar 11-15 Juni lalu jadi momen penting buatku. Pasalnya, aku berhasil mewujudkan impianku memiliki benda kecil tapi cerdas itu.

Menyaksikan teman-teman dikantor punya laptop mini berlayar 7 inch merk Asus 4 GB, Rp 4 juta sekian, aku begitu tertarik dan terinspirasi untuk memilikinya juga. Mengingat aku begitu membutuhkan alat itu untuk menjembatani inspirasiku ke dalam tulisan. Dan yg paling penting lagi harganya murah, ukurannya pun kecil, jadi bisa mobile.

Tapi, ternyata tidak mudah, kawan. Meski harga murah, toh waktu itu aku tak mampu membelinya sama sekali.  Tabunganku sendiri tidak cukup. Akhirnya aku menunggu masa itu tiba. Aku kumpulkan tabungan sedikit demi sedikit demi mencapai impianku itu. Mulai menabung hingga usaha pinjam ke koperasi.

Dan pada pameran bulan April lalu, aku belum bisa membelinya juga. Pertama karena tabungan juga belum cukup, kedua, karena aku mendengar informasi akan ada pameran komputer yang lebih heboh dengan teknologi yang lebih canggih di bulan Juni. Akhirnya aku menunggu momen itu tiba. Dan, aku hanya gigit jari menyaksikan salah seorang teman membeli laptop TOSHIBA seharga 6 juta. Hmm, merk keren tapi harga murah. ”Yah insya Allah aku akan beli laptop impianku bulan Juni nanti, ” pikirku saat itu.  

Seorang sahabat dekatku menyarankan lebih baik membeli laptop yang bagus speknya meski harga sedikit tinggi. Dia bertanya, mau laptop yang kecil atau yang bagus? Aku bisa menangkap pertanyaannya itu (maksudnya, laptop kecil dengan spek biasa dan harga murah itu bukan termasuk laptop yang bagus kualitasnya). Tapi waktu itu aku kekeuh dan  bilang ke sahabatku itu, aku ingin laptop yang kecil. Jawabanku ini berdasarkan keinginanku semula bahwa aku ingin laptop yang simple buat mobile.

Akhirnya moment itu tiba, pada 11-15 Juni. Aku jajaki dan tanya setiap sudut pameran. Dan aku terpesona dengan berbagai tawaran laptop, dari berbagai merk dan spek.  Hmm, tapi aku balikkan lagi ke niat semula. Aku ingin laptop yang simple, ukuran kecil tapi harga murah dan spek lumayan. Ternyata di pameran itu, banyak ketemui laptop sesuai yang kuharapkan, Asus layar 7 inch, harga 3-4 juta, hanya saja prosessor type celeron. Bahkan sahabatku tadi juga sempat memberi informasi, kalau di Point Square juga ada type tersebut dengan harga murah, Rp 3,75 merk Asus dan 3, 3 merk Axioo. Nah lho...
Ada tawaran yang lebih menggiurkan....

Ternyata, ???!!

Setelah keliling-keliling tanya sana tanya sini, aku malah ga konsisten. Pasalnya, dari hasil keliling2 itu, aku banyak mendapat masukan. Selain mendapat masukan dari para penjaga stand tentang type dan merk2 masing2, aku juga jadi tahu ternyata type yang kuinginkan itu belum tentu spek dan kualitasnya bagus juga belum tentu tahan lama, meskipun harganya lebih murah. Dan, akhirnya, disitulah aku baru sadar dan saran sahabatku itu terbukti, kalau memilih laptop itu lebih baik yang bagus sekalian. Meskipun harganya lebih mahal sedikit. Tapi untuk kualitas jangka panjang, tak jadi soal. Akhirnya, dimoment terakhir aku bingung dan hampir memutuskan untuk tidak memilih sama sekali, aku memberanikan diri memilih dengan pertimbangan : spek bagus, merk kualitas internasional, dan ukuran tetap kecil dan ringan juga harga tidak terlalu mahal. Jatuhlah pilihan pada Acer intel dual core, RAM 512, 160 HDD, Rp 7,1 Juta! Pilihan ku itu dengan konsekuensi mengalahkan keinginan mendapat bonus ini itu (printer, speaker dan flashdisk) dari merk2 lokal seperti Axioo, A note dll.

Hmm.. dari memilih laptop ini, sepertinya juga jadi gambaran kasar bagaimana memilih pasangan hidup. Artinya, jangan hanya  karena body dan harga murah, kita langsung memutuskan untuk memilihnya tanpa mempertimbangkan kualitas. Jangan hanya melihat tampang dan penampilan, kita langsung jatuh cinta dan memutuskan kalau dialah pasangan hidup yang kita inginkan. Ternyata, kualitas (agama dan visi jangka panjang hidup berumahtangga) juga perlu dipertimbangkan. Demi keutuhan hidup di masa depan tentunya.

Pondok pinang, 16 Juni 2008


Blog EntryRamaikan 100 tahun kebangkitan nasionalMay 15, '08 12:29 AM
for everyone
Ada yang mau Ikut gerak jalan di momentum terbesar Indonesia? Di 100 tahun kebangkitan nasional, alhamdulillah ESQ LC bersedia mengadakan perhelatan akbar diantaranya :
1. Gerak jalan nasional rute Jl. TB Simatupang, Jkt dan sekitarnya (20 Mei jam 06.00-10.00)
    Untuk gerak jalan ini peserta mendapat kaos, topi dan air  hanya dg membayar Rp 15 000
2. Aksi sosial&training gratis untuk guru, BEM Sejabodetabek, dhuafa dan anak yatim (9-19 Mei)
3. Penandatanganan prasasti 7 Budi Utama ( 20 Mei pukul 19.00-22.00)
4. Talkshow & Pentas seni budaya (20 Mei 2008 pukul 14.00-18.00)

Bagi yang  berminat silahkan segera mendaftar yaa, terutama yang gerak jalan..karena persediaan kaos terbatas!

Blog EntryJujur, Komentar Anda?May 14, '08 3:25 AM
for everyone
Bicara tentang kejujuran, secara teori tampaknya topik ini sangat klise. Makna jujur, sejak SD kita pasti sudah menghapalnya di luar kepala. Dan kata ini pun sering didengungkan di mana-mana. Namun, secara praktek dan realitanya, ternyata hal ini masih sulit dipegang teguh. Buktinya banyak para pejabat yang  tertangkap tangan menggelapkan uang, suap, dan sebagainya. Ini membuktikan semakin canggihnya era globalisasi ternyata tidak menjamin kecanggihan dari nilai-nilai moral, terutama nilai kejujuran itu sendiri. Nilai ilmu pengetahuan yang semakin maju maju tidak diiringi peningkatan nilai moral. Bagaimanakah komentar Anda tentang kejujuran ini?

Beberapa komentar terbaik akan dimuat di ESQ MAGAZINE, majalah komunitas ESQ Leadership Center yang dalam penyampaiannya mengusung Tujuh Budi Utama : Jujur, tanggung jawab, disiplin, kerjasama, visioner, adil dan peduli.

Janganlupa cantumkan, nama lengkap, alamat, no.telp dan email. Terimakasih atas partisipasinya.


Blog EntrySyukuri Indera KitaMay 4, '08 10:15 PM
for everyone

Pagi ini ketika aku menyeterika pakaian, aku mendapat pelajaran berharga. Tanpa terasa, tangan kananku menyentuh besi mesin setrika. Ups, secara refleks, aku menarik tanganku. Sejurus kemudian, rasa panas menjalar di sekitar tanganku.  Beberapa menit aku terdiam dan berpikir. Ternyata, rasa panas muncul beberapa detik setelah kontak dengan mesin seterika. Dan efek panas itu menyebabkan aku refleks menarik tanganku, dan itulah respon tubuh yang menjadi antibodi tubuh kita terhadap sesuatu.

Saat itu, meski rasa panas menjalar dan menimbulkan rasa sakit itu, aku bersyukur. Pasalnya, jika aku tidak merasakan rasa sakit, niscaya kulitku akan terbakar. Karenanya, rasa sakit yang dianugerahkan melalui indera perasa kita, itu harus disyukuri. Tidak sia-sia Allah menciptakan indera manusia. Subhanallah. Itu baru satu indera perasa, belum lagi indera penciuman (hidung), penglihatan (mata), pendengaran (telinga), dan indera lainnya.

Fabiayyi aala irobbikumaa tukadzdzibaan....

Dan atas nikmat Robb kamu yang manakah  yang kamu dustakan?

Dan saat itu juga, aku baru teringat, bagaimana nasib orang-orang yang berpenyakit Kusta? Mereka sama sekali tak merasakan rasa sakit. Dan kalau kita pernah melihat bagaimana kulit mereka rata-rata hangus karena terbakar? Bahkan ada beberapa yang anggota tubuhnya hancur atau tidak lengkap. Masya Allah!

Fabiayyi aala irobbikumaa tukadzdzibaan....

Dan atas nikmat Robb kamu yang manakah  yang kamu dustakan?

Jadi, mengapa kita masih saja komplain terhadap penciptaan Allah dalam diri kita? Sebagian orang mengeluh memiliki hidung yang tidak mancung, atau sebagian orang minder dengan bentuk wajah yang tidak cantik. Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki hidung, atau yang bibirnya sumbing, atau bahkan yang matanya buta? Mengapa kita tidak bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan?

Terus terang, aku pun baru merasakan syukur itu setelah kejadian sepele tadi menimpa. Masya Allah, syukur kupanjatkan telah diingatkan hanya dengan kejadian kecil. Sementara banyak orang disana yang diingatkan dengan kejadian yang lebih besar lagi. Kecelakaan yang menyebabkan kakinya diamputasi, penyakit kanker yang menyebabkan salah satu anggota badannya dioperasi dan sebagainya.

Sekali lagi, kita baru akan bersyukur jika kejadian baru menimpa kita. Nah, selayaknya kita selalu bersyukur sebelum kejadian itu menimpa kita. Selayaknya kita harus membiasakan rasa syukur itu setiap  hari. Wallahu A’lam bi showwab.

Pondok Pinang, 5 Mei 2008.


Blog EntryLagi, konser musik memakan korban Feb 11, '08 4:37 AM
for everyone

Suara hangar bingar musik keras memenuhi panggung dan lapangan. Ribuan penonton berjejal-jejal ditingkahi gaya jingkrak menyesuaikan alur musik keras yang disuguhkan. Dalam suasana itu, penonton seperti tersihir mendengar dan menyaksikan idola mereka manggung. Saat jiwa sudah menyatu dengan alur musik, tak pandang kiri kanan, gerakan tubuh seperti tak terkontrol. Menyeruduk ke sana kemari. Tak sadar, ada yang tersenggol, ada yang tersikut bahkan ada yang terinjak. Kerusuhan terjadi hingga memakan korban.

Inilah yang terjadi Sabtu malam (9/2) saat konser musik Besides diselenggarakan di Gedung Asia Afrika Jl. Braga, Bandung. Hampir serupa dengan konser Ungu, sebanyak 10 orang meninggal dunia saat nonton konser tersebut. Kejadian ini bukan yang pertama, setelah konser ungu tahun lalu juga memakan korban.

Dari kejadian tersebut, ada berbagai analisa penyebabnya. Ada yang berkata, kesalahan panitia konser yang tidak jeli mengantisipasi pengunjung hingga tak menyediakan tempat yang layak, atau juga faktor keamanan yang kurang ketat? Yang jelas, semua itu menjadi penyebab teknis insiden tersebut. Secara keseluruhan masalah teknis adalah alasan klise yang seharusnya tidak boleh terulang. Apatah lagi sebuah konser yang melibatkan ribuan orang. Penyelanggara acara harusnya sadar akan hal tersebut. Dari mulai masalah panggung, sound system, lapangan hingga keamanan, semuanya harus diantisipasi. Namun, pun sudah diusahakan pengamanan yang ketat, untuk sebuah acara yang melibatkan ribuan orang penonton, tak mustahil sebuah konser musik mengundang reaksi dan ekspresi. Masalahnya, seberapa keras ekspresi itu tergantung dari musik dan suasana yang dibawakan.  

Kalau boleh berasumsi, setidaknya belajar dari pengalaman, semua konser musik yang ditingkahi kerusuhan adalah karena terbawa suasana yang tidak tenang. Ketenangan! Mungkin ini hanyalah asumsi yang  belum tentu benar. Namun pengalaman membuktikan hal tesebut. Tengok saja konser Bionce yang eksklusif menggunakan tempat yang nyaman di Jakarta Convention Centar, tak ada insiden. Atau, konser musik religi yang dinamakan Konser Menembus Batas yang diselenggarakan di Jakarta ataupun di Bandung, melibatkan artis-artis yang melantunkan lagu-lagu religi. Semua penonton yang kebanyakan berbusana muslim, semuanya berekspresi tapi tetap tenang. Tak ada jingkrak-jingkrak apalagi kerusuhan.

Jadi, sekali lagi kalau boleh disimpulkan, sebuah konser musik membutuhkan penjagaan dari sikap dan ekspresi penonton. Untuk itu, bagaimana penyelenggara menciptakan suasana tersebut?

 

11 Februari 2008


Blog EntryWonderful BalikpapanJan 30, '08 5:33 AM
for everyone
Balikpapan Indah! Hanya ini kata yang terlontar dari mulutku ketika berkunjung ke Balikpapan, 18-25 Januari lalu. Kotamadya seluas 946 km2 ternyata memiliki kota yang indah. Bahkan, karena lengkapnya fasilitas dan sarana kota, ibukota Samarinda jadi kalah pamor.  Balikpapan selain punya Bandara internasional Sepinggan, juga punya pelabuhan Semayang dan hotel-hotel besar seperti Novotel dan Sagita yang esklusif. Jalan-jalan bersih dan hijau di mana-mana, masyarakat yang ramah, dan tak ada macet! Tak perlu risau terlambat pergi ke kantor karena perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 15-30 menit.

Pemandangan yang paling mencolok adalah penghijauan dimana-mana. Beberpa warga tampak sibuk mengecat sisi jalan di gang2 dan rumahnya. Ketika aku bertanya ke beberapa kelurahan, warga maupun lurahnya mengatakan ”Kami disini memang sedang mengadakan penghijauan dalam rangka HUT tgl 10 Februari nanti.” 
Pernah, suatu hari ketika berkunjung ke desa Klandasan Ilir, suasana asri dan hijau langsung terasa. Hampir di setiap rumah, catnya berwarna hijau juga dipenuhi pohon-pohon dan bunga-bunga. Ketika kutanya lurahnya mengapa rata-rata bercat hijau, ia menjawab ”Rasulullah kan senang dengan warna hijau.”

Salah seorang mengatakan, ”Hidup di Balikpapan itu enak. Karena Balikpapan itu ibarat madu. Makanya orang banyak datang ke sini.” Wajar saja ia berkata begitu, karena pemerintah kotanya sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dengan APBD 1,3 Trilyun, walikota sangat menitikberatkan ekonomi kerakyatan. Orang miskin di Balikpapan hidup serba terjamin. Sekolah gratis, berobat gratis dan beli bahan pokok dengan harga yang relatif murah. Bahkan, seorang tukang jamu bisa nabung 2 bulan itu terkumpul 3-4 Juta. Hal ini tentu tak bisa di dapatkan jika dia berjualan di kampung asalnya di Solo. Begitu pula seorang tukang sapu jalanan, dia bilang ”Alhamdulilllah saya senang di Balikpapan, saya bangun rumah di kampung saya di Buton. Ketika ditanya, bapak tukang sapu ini mengatakan penghasilannya hanya Rp 700 ribu sebulan.

Suatu hari, aku hunting ke kantor DPRD. Suasana gelap. Ternyata mati lampu. Wah, yang mencengangkan, para karyawan DPRD itu tidak panik atau berhenti bekerja. Tak seperti para karyawan di Jakarta kebanyakan, meski mati lampu, para staf ini tetap bekerja. Mereka seperti tak ada hambatan (kecuali peralatan listrik), tetap mengerjakan tugas masing-masing. Bahkan, para pejabatnya tetap menerima tamu. Salut...salut...mereka nrimo-nrimo dan sabar2 aja terhadap kondisi mati lampu giliran itu. Maklum, hal yang menjadi kekurangan hidup di Balikpapan yaitu mati lampu giliran itu sudah sejak lama di berlakukan. Tapi ’bagus’nya masyarakatnya tidak protes apalagi demo.

Yah itulah, Balikpapan. Tak heran akhir-akhir ini orang berduyun-duyun mengunjungi Balikpapan baik menetap atau sekedar buka usaha. Karenanya, Balikpapan sering disebut sebagai kota transit. Dan bandaranya menjadi bandara tersibuk ke-2 se-Asia.

Pertama kalinya aku berkunjung ke Balikpapan selama 8 hari, namun aku cukup merasakan keteduhan dan kenyamanan berada di sana. Apalagi bermunajat solat di masjid At Takwa di Jl. Sudirman. Siang yang terasa panas terkalahkan oleh sejuknya suasana dan aura di masjid itu. 

 

Balikpapan, wait me there!

 

 

 

 

 

 


Blog EntryIde Buku Jomblo?Jan 13, '08 10:56 PM
for everyone
Kamu sering dapet ide-ide brilian ga waktu berada di kamar mandi? Nah, itu yang aku alami kemarin waktu liburan di Priuk.

Pas sikat gigi, tiba-tiba muncul ide untuk menulis buku untuk para Jomblo. Judulnya ” Masih Jomblo? Jangan Sedih...”  Ini tentang kumpulan pengalaman para jomblowan dan jomblowati yang berpikiran positif tentang jodoh itu tidak mengenal usia. Jadi, bisa menjadi kamus penghibur para jomblo yang di usia rawan belum dapat pasangan, agar dia tidak menjadi pesimis dan putus harapan. Buku ini rencananya juga bisa dilengkapi foto-foto para jomblo dan jomblowati itu, kali aja bisa jadi ajang perjodohan yang baik? (Ehm okey ga nih?)

Nah, ini ideku diantara beberapa ide membuat buku yang lain (lihat Renungan di tahun baru ttg resolusi 2008). Waduh, mudah-mudahan tak hanya ide ya...dan semuanya bisa aku realisasikan. Masalahnya dari semua yang kugarap belum ada yang terbit.

Ya Allah, i hope i can reach this all.amiin


Blog EntryTOLONG DIRANTAIKAN...Dec 30, '07 10:13 PM
for everyone
Mohon ma'sf bila mengganggu PRIVACY Anda-anda semuanya...

Dicari golong darah AB SECEPATNYA, dan bersedia membantu seorang sahabat:
Dian Mahasiswa Ekonomi Angkt 06
Univ Sanata Dharma Yogyakarta
Sakit kanker otak stadium 4.
Hubungi Ketut (081804167497).
Tolong disebarkan... Thanks before ...
cuma copy paste doank udah ngebantu orang lagi

Blog EntrySekali Lagi Renungan Tahun BaruDec 30, '07 10:02 PM
for everyone

Dalam menyambut tahun baru, biasanya orang akan merayakannya dengan berbagai kesenangan. Meniup terompet, nonton konser musik sampai pagi, hingga bakar ikan bersama keluarga. Semua hura-hura tersebut sah-sah saja dilakukan. Namun, tanpa mengesampingkan atau menyalahkan, sebenarnya ada kegiatan lain yang lebih bermakna ketimbang melakukan itu semua.

Merenung! Itu salah satu sikap yang kulakukan beberapa hari terakhir menjelang akhir tahun 2007. Hmm...memang klise sih. Tapi entah berbagai perasaan berkecamuk. Antara sedih akan meniggalkan tahun 2007, senang dengan semangat menyambut tahun 2008, juga ada rasa sedih tak dapat melakukan yang terbaik di tahun 2007, ada rasa kecewa atas segala target yang belum tercapai. Semuanya meletup-letup bercamput aduk.

Karenanya, dari pada perasaan itu tak karuan adanya, akhirnya aku menulisnya di blog ini biar plong. Agar semua yang terjadi, semua yang terasa, semua yang terencana di pikiranku dapat terekam dan menjadi sejarah dalam kehidupanku kelak.

Yang jelas, di tahun 2008 ada banyak harapan dan rencana yang sudah menari-nari dipikiranku. Berbagai ide yang muncul sudah sangat banyak. Namun, hanya beberapa (ada empat) yang aku anggap realistis untuk dapat dilaksanakan. Dan yang ini yang kutulis.

Diantara rencana tersebut, tahun depan dimulai dengan displin menyisihkan uang penghasilan sebagai tabungan pribadi. Tabungan ini untuk menambah modal bikin usaha keecil-kecilan. (Ide ini sebensarnya sudah dicanangkan tahun lalu, tapi tak juga dilaksanakan). Kemudian, yang kedua, rencana di tahun lalu juga, menerbitkan tulisan-tulisanku yang kucurahkan di  blog pribadi maupun bukan, dalam sebuah buku. Alhamdulillah masih 30 halaman, Insya Allah targetku minimal Maret 2008 selesai. Ketiga, aku juga berniat mengumpulkan catatan-catatan di kelas menulis bimbingan Pak Yudhistira, Pemredku sekaligus guru menulisku. Kumpulan catatan tersebut akan dibuat sebuah buku kecil yang insya Allah bermanfaat buat orang lain yang butuh tips-tips menulis. Keempat, rencanaku mengumpulkan dan menulis pengalaman reportase para wartawan Nebula, majalah tempatku bekerja. Insya Allah, pasti akan jadi buku yang menarik buat pembaca.

Yang terakhir, tentu menjadi hal yang tak kalah pentingnya, adalah menikah! Mengingat usiaku sudah terlalu matang dan harus disegerakan. Tentu saja, urusan yang satu ini tak  bisa ditargetkan terlalu ketat.  Karena, aku sebagai manusia boleh saja berharap dan berikhtiar, tetapi yang menentukan tetaplah Dia, Allah Al Qaadir. Karenanya, sebenarnya ada satu lagi yang menjadi poin penting yang harusnya setiap tahun dicanangkan. Yaitu, terus berbenah diri, memperbaiki sikap, perilaku, manajemen diri dan hati. Karena dari semua rencana semua bermuara pada manajemen diri dan hati. Learn from yesterday, Live for today, hope for tomorrow. Amin


Blog EntrySuatu Pagi di Penghujung Akhir 2007Dec 25, '07 9:37 PM
for everyone
Suatu pagi aku terbangun dari tidur panjang. Aku tersentak, jam menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit. Aku terlonjak dari tempat tidur. Berulang kali kalimat istigfar terlontar dari mulutku. "Astagfirullah! Ya Allah betapa lalainya aku. Disaat itu aku langsung mengambil air wudhu dan menunaikan kewajiban subuhku yang nyaris terlewat.

Ketika bersuci, tiba-tiba aku seperti disadarkan akan perbuatan apa saja yang telah aku lakukan selama ini. Tidur panjang semalam dan terhenyaknya aku ketika bangun itu seolah menganalogikannya. Apa saja yang telah aku lakukan selama 30 tahun umurku berselang? Prestasi apa  yang telah aku dapat? Sudahkah aku memiliki bekal yang cukup jika suatu hari nanti aku dipanggil-Nya?

 Tiba-tiba aku seperti tersadar dari lamunanku. Ya Allah, selama ini aku disibukkan dengan pekerjaan. Waktuku habis dengan menyelesaikan target pekerjaan di kantor. Apakah semua itu cukup untuk bekal kehidupan akhiratku?  Aku tak dapat menjawab.

Bagaimana dengan kondisi ruhiyahku yang kering? Bagaimana dengan hafalan alQuranku yang sudah banyak terlupa yang kata nabi akan menjadi syafaat di hari kiamat nanti? Ya Allah, bagaimana dengan cita-citaku membangun dan meneruskan yayasan TPA milik ayahku yang itu akan menjadi bekal amalku nanti? Bagaimana dengan keinginan menggenapkan separuh din yaitu menikah yang dengannya aku bisa masuk surga-Nya dengan berbakti pada suamiku dan mendidik anak-anakku?

 Jka ditarik garis satu tahun kebelakang, aku belum bisa menjawab, karya amal apa yang sudah aku hasilkan? Prestasi amal apa yang sudah aku lakukan? Begitu seterusnya sampai aku menarik garis tiga puluh tahun rentang usiaku. Ada sekelebat bayangan anak-anak belajar mengaji di TPA yang belum terlaksanakan, ada setumpukan halaman draft buku yang belum terselesaikan yang merupakan targetku di tahun 2007? Ada segaris harapan membangun keluarga dan mendidik anak-anakku yang belum terwujudkan. Ada sekelumit cuplikan senda gurau dan candatawa yang melenakan dari semua cita-cita itu. Tak terasa waktu tiga puluh tahun itu.

Sepertinya, pagi ini aku disadarkan dari lamunan panjang. Bersamaan dengan bergegasnya aku berwudhu untuk melakukan solat subuh yang nyaris terlewati. Bersamaan dengan itu, seolah aku ditunjukkan jalan itu. Ada yang harus kujalani. Semua cita-cita dan karya yang hampir tak terjamah., harus disegerakan jalannya.

Ya Allah bantu hamba menyusun dan menata kembali peta hidupku. Bimbing hamba mewujudkan semua yang dicita-citakan yang merupakan bekal terbaik hidupku ya Allah. Amin


Suatu pagi di penghujung akhir 2007

26 Desember 2007

06.30 AM

 


Blog Entry8 hari di KalimantanDec 14, '07 8:40 AM
for everyone

Subhanallah ...menyenangkan! A nice trip ...to Banjarmasin! Ini perjalanan pertamaku setelah 2 tahun aku ga kemana-mana (maksudku setelah di Sekred aku ga bisa liputan keluar).

Dari tanggal 5 - 12 Desember aku melakukan liputan wawancara pengusaha! Wow what a great job...Alhamdulillah aku jalanin tugas itu sesuai planning. Rencana perjalanan mau kemana2nya selama di Banjarmasin sudah aku arrange dari Jakarta. Yang aku rencanain semuanya berjalan lancar. Semua narasumberku (10 orang) terjadwal. Alhasil, sejak pertama sampai, aku sudah langsung ke lokasi ngejar narasumber yang besok paginya mau berangkat ke Jakarta. Untungnya aku diantar jemput menemui narasumber, malam-malam pula. Wahh otomatis cape sih...but its fun!..banyak pengelaman yang kudapat dari hasil interview dengan orang-orang sukses. Rata-rata mereka berasal dari bawah. Ada Pak Imam di Banjarmasin. Dulunya karena alasan ekonomi, terpaksa berjualan koran dan menggali jalanan. Bahkan sampai jadi office boy!! Kini, beliau jadi pengusaha tower sukses yang berpenghasilan 12, 5 Milyar setahun. Ada juga, pak Opick, mantan gelandangan yang pernah terjun di dunia narkoba, kini jadi pengusaha komedi putar sukses yang pernah berpenghasilan 47 juta per hari! Amazing! Ketika ditanya apa prinsip dan tips suksesnya? Mereka rata-rata menjawab kejujuran, berani, optimis dan yakin. Nilai inilah yang menjadi kunci sukses mereka. Ini terus terang menginspirasiku untuk mengikuti hal yang sama.

Dan bahagianya, aku merasakan persaudaraan kuat dari teman-teman di sana. Di sela-sela jadwal liputan yang padat, aku diantar jemput untuk jalan-jalan mengitari pasar terapung di Banjarmasin. Begitu juga Pak Andrea (Ketua cabang di Kalsel) dan keluarga yang menmpersilahkan aku untuk makan hasil masakannya yang uweenak banget ...abis itu kami berjalan-jalan ke pasar Martapura, kota intan. Phuh ...pengalaman luar biasa yang tak pernah terlupakan Belum lagi, banyak narasumber yang tega-teganya traktir aku makan setelah wawancara...aduhh jadi enak nih...Mau nolak ga enak...kan masih menghormati sebagai nara sumber. Sebenarnya sih ga masalah kalau yang aku wawancara itu dah tua..tapi ini mah masih muda dan lumayan ganteng...!! Aduhh astagfirullah bukan maksud hati mau genit2an ya Allah...but i'm so happy with this new experience...

Belum lagi pengalaman ke Kalteng (Palangkaraya) yang memakan waktu 4 jam naik darat dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Penumpang di sebelahku berkomentar "Mbak ko berani jalan sendiri?" Aku hanya tersenyum (bangga ehem) sambil menjawab "Yah mau diapain mba demi tugas!". Nah di Palangkaraya ini juga aku dapat pengalaman kesendirian. Aku kena tiban menginap di hotel melati yang serem. Hotel lampang namanya. Ini karena narasumberku menginginkan aku wawancara di hotel itu. Kebetulan rumahnya dekat dengan hotel itu. jadilah aku check ini di situ.  Suasana dan auranya beda dengan hotel di Banjarmasin, di situ tuh auranya.bikin takuttt. mana kurang bersih.Tapi, sekali lagi semuanya harus kuhadapi dengan besar hati. Jadilah disitu aku banyak beristigfar setelah lelah menghabiskan pulsa dengan nelpon-nelpon temen untuk mengusir rasa sepi sendiri. Akhirnya aku terlelap pada pukul 1 dini hari. HH..rasanya seperti nighmare menunggu malam habis di hotel itu. Sendiri...dengan kondisi hotel yang menakutkan....hiyyy. Beruntung aku cuma semalem nginap disitu..karena besoknya aku sudah harus terbang ke Jakarta.

Ga terasa, tau2 sudah 8 hari terlewati. Aku haru sbalik ke jakarta lagi menikmati macetnya jakarta.

Yang jelas, menghirup udara liputan ke daerah2 membuat pikiran segar dan terbuka lebar  untuk menerima banyak inspirasi. Semua yang kualami menjadi kesan tersendiri. Mulai idari pengalaman berharga dari narasumber, kehangatan dan persaudaraan temen-teman yang baru kukenal serta pengalaman perjalanan yang tak terlupakan. All is great!


 

Blog EntryPengalaman dari Seorang PebisnisNov 26, '07 3:04 AM
for everyone

Subhanallah….banyak hal yang kuperoleh melalui liputanku. Being  a reporter again, its so delicious! Manything i’ve  reach. Disampng pelajaran dan pengalaman berharga dari orang-orang sukses, aku juga bisa belajar tentang prinsip hidup yang dipegang oleh orang sukses tersebut.

 

Seperti hari ini, pagi-pagi jam 9 aku dah meluncur ke daerah Terogong untuk wawancara seorang pengusaha asal Banjarmasin.. Yah dengan nyasar-nyasar dikit akhirnya aku sampai drumah sang pengusaha, Bu Noor latifah Said namanya. Awalnya aku salah rumah karena nomer rumahnya hampir sama. Yang aku datengin nomer rumahnya  no. TM 16, padahal nomor rumahnya TN 16 . Curiga penuh curiga, rumah Nomer TM 16 itu ada anjingnya. Untung tuh anjing ga keluar dari pager. Alhasil aku langsung kabur setelah aku tahu kalau aku salah alamat.  Yah dengan berjalan kurang lebih 500 meter, akhirnya aku temukan juga rumah sang pengusaha.

 

Setelah kupencet bel rumahnya, aku dipersilahkan masuk oleh pembantunya. “Hmm rumah yang nyaman. Kupandangi sekeliling ruangan tamu. Gorden kombinasi warna merah dan kuning sangat serasi dengan sofa panjang warna merah marun. Di samping sofa ada jejeran guci-guci keramik. Diatas guci-guci tersebut ada lukisan kaca. Hmm..ruangan yang nyaman. Cocok untuk seorang pengusaha. Tak sampai lima belas menit, akhirnya Ibu Latifah keluar. Sambil tersenyum dia menyalami aku. “Ana, ya.” Kujawab dengan anggukan sambil menyalaminya.

Berbasa-basi sedikit, aku cerita kepadanya bagaimana aku sampai di rumahnya. Dia tersenyum. Wajahnya yang lembut langsung memaklumi dan memberitahukan jalur tercepat menuju rumahnya adalah dari arah pom bensin Terogong.

Masih dalam basa-basi, aku menanyakan dimana anak-anaknya kini? Dia menjawab dengan bercerita panjang tentang anak-anaknya. Ternyata, anak-anaknya semua pengusaha. Anak-anaknya adalah pengusaha SDM yang sukses. Nah, dari sini aku langsung masuk ke inti pertanyaanku “Bisa diceritakan Bu bagaimana membangun kesuksesan dalam usaha Ibu?’ Akhirnya, mengalirlah cerita bagaimana dia merintis usaha dengan mendirikan lembaga pendidikan di bawah yayasan lembaga kejuruan Nasional. Kemudian, dari situ ia mengembangkan lembaganya menjadi lembaga kursus bahasa Inggris franchise (afiliasi) LIA Jakarta. Mulai dari siswanya hanya berjumlah puluhan, hingga kini ribuan. Intinya ia memang merintis usaha dari nol. Meskipun, suaminya adalah seorang Gubernur waktu itu.

 

Benang merah yang kuambil dari hikmah wawancaraku itu, Ibu Latifah itu membangun bisnis dari hati. Niat awalnya adalah bagaimana masyarakatnya dapat mengenyam pendidikan bahasa Inggris. Ini dibuktikan dengan concernnya memodali yayasannya tanpa mengharap kembali dalam waktu cepat Dia bilang, kita jangan mengharap modal kembali dalam waktu 1 atau 2 tahun, tapi 10 tahun minimal.

 

Wah pokoknya aku. banyak belajar dari beliau. Kebetulan kan aku punya yayasan pendidikan milik orangtua. Nah, yayasan itu juga butuh manajemen dan modal yang sedang aku rintis. Doain yah ..semoga aku bisa seperti beliau. Di hari tuanya, ia tinggal menikmati jerih payahnya.

 

 

 

 

 


Blog EntrySemangat 2007 Bo!Nov 17, '07 1:02 AM
for everyone

Menghadapi edisi khusus 100 Profil Pengusaha Alumni ESQ yang bakal terbit Januari tahun depan wah bener-bener bikin detak jantung dan adrenalin naik. Pasalnya, program ini diluar program regular yang kita tuh cuma liputan, janjian ama nara sumber terus wawancara atau liputan even-even aja. Semuanya biasa. Tapi, kalau yang satu ini luar biasa. Wah…ini kan bikin semangat tapi agak dag dig dug der juga. Gimana enggak, karena program ini disebut Edisi Khusus, karena semuanya memuat profil para pengusaha alumni ESQ di seluruh Indonesia. Nah, kita semua kru turun tangan. Dari mulai marketing sampai reportasenya. Dari mulai nawarin mau pasang sebagai advertorial sampai yang turun ke lapangan untuk wawancara juga, bahkan sampai ke daerah-daerah. Jadi, ini bukan kerja ringan! Nelpon-nelponin narasumber yang ditawarin untuk bayar itu enggak gampang! Masalahnya sensitive banget kalau untuk berurusan dengan duit. Tapi gimana dong, orang hidup kan butuh duit. Makan pake duit, pergi pake duit, sekolah pake duit, sampe ibadah juga pake duit. Jadi intinya, duit itu permasalahan yang utama dan perta sebenarnya. Tapi, mungkin karakter kita masih terbelenggu pada konsep mengeluarkan itu yang masih susah. Pdahal kalau ditinjau dari segi bisnis dan ekonominya, justru duit itu bagi mereka adalah investasi yang bakal mengembalikan sejumlah uang yang kita keluarkan, justru lebih banyak jumlahnya. Nah, mindset ini yang belum banyak dimiliki oleh sebagian orang.  Begitu juga dengna di media dalam hal in majlalah. Di majalah itu untuk urusan iklan butuh biaya yang tidak sedikit. Bisa sampe puluhan juta. Bahkan kalau di televisi sampe ratusan juta atau milyaran. Nah itu pentingnya imaje di media. Bagaimana mahalnya respond an imaje yang dihasilkan dari media, termasuk di majalah tempat ak berjuang.

 

Ah saying, belum banyak yang tahu tentang ini. Makanya kemarin pagi itu, ada email yag bikin detak jantung itu seakan mati! Emang apa bunyinya? Yah kira-kira ..isinya mendiskreditkan program yang sedang kami jalani. Dia bilang kalau program majalahku itu ujung-ujungnya duit (UUD) dan lari-larinya mendiskreditkan ESQ. Padahal, dia enggak tahu berapa harga iklan sebenarnya di sebuah majalah itu. Dia enggak tahu puluhan juta bisa saja dihabiskan seorang pengusaha atau pemilik perusahaan demi sebuah investasi. Dan memang benar, imaje itu tercipta dari iklan yang dia pasang. Bagaimana kita mengingat sebuah merk atau Nokia misalnya, merek handphone yang merajai pasar dunia. Itu semua diawali dengan iklan. Nah, kalau sudah bicara masalah iklan itu bakal jadi panjang karena berhubungan dengan marketing dan pasar (segmen).

 

Yah, disini aku cuma mau curhat aja kalau aku tuh lagi semangat-semangatnya berjuang di tempatku, melalui semua potensi yang kupunya tetapi semua itu hanya dilandasi satu niat bagaimana kita bisa ‘win-win solution’. Artinya, majalahku untung, nara sumberku juga untung. Majalahku enggak rugi karena memuat profil pengusaha yang mau bayar dengna harga relative murah (karena udah didiskon habis-habisan dari harga sebenarnya),  tapi juga dia juga banyak mendapatkan keuntungan. Thas’all!

 

Thanks god, satu email ini enggak membuatku patah semangat atau menghentikan detak jantung dan adrenalinku. Tapi justru timbul tantangan baru bahwa aku harus biasa. Banyak narasumber lain yang berpikiran buruk. Email itu mungkin hanya satu dari sekian ribu  orang yang positif thingkingnya lebih bagus.

 

Makanya, dilandasi niat positif thinking juga, aku mulai berjuang lagi. Nelpon-nelponin nara sumber yang mau dimuat. Alhasil, mereka respon. Bahkan ketika aku menyebutkan kata maaf untuk pembicaraan masalah biaya sebagai kontribusi, mereka sama sekali enggak mempermasalahkan. Nah, itu gunanya semangat dari sebuah pikiran positif. Optimis!...

 

May Allah always bless us! Keep the spirit  stay longer yaa Haadi…

 

Medio November 2007

Blog EntryBelajar Tentang Zero di KolamNov 9, '07 10:39 PM
for everyone

 

Pernahkah Anda merasakan berenang dengan tenang di dalam air dengan kedalamaan di atas 2 meter? Kuncinya adalah pasrah. Ya, Anda harus bersikap pasrah (dalam arti + tenang dan tidak panic) kemudian rasakan tubuh anda akan mengapung dengan sendirinya di atas permukaan air. Artinya, berlaku konsep Zero Mind Process, mengosongkan pikiran dari rasa takut tenggelam, dan rasa lainnya. Intinya adalah jika kita pasrah maka kita akan mampu berenang. Tubuh kita akan menyatu dengan air, dan air secara refleks menerima kehadiran kita secara ramah. Coba lihat orang yang merasa ketakutan berenang, pastinya secara refleks tubuhnya tidak akan mengapung dan bahkan tenggelam. Tetapi cobalah jika anda rileks, kosongkan pikiran, lenturkan tangan dan kaki. Berenanglah dengan gaya katak, gaya punggung, atau mengapung saja di air, dijamin kita tidak akan tenggelam.

Subhanallah, hal ini saya pelajari sendiri ketika mencobanya. Saya yang secara rutin melakukan olahraga air ini untuk pertama kalinya merasakan was-was jika di tengah air dengna kedalaman 2 meter lebih tiba-tiba harus kehabisan nafas, saya waktu itu benar-benar panik dan nyaris tenggelam. Beruntung ada teman-teman yang memperhatikan dan buru-buru menyelamatkan. Tetapi, ketika saya mencoba pasrah  dan rileks, air seolah ramah dan saya dapat berenang dengna lancar bahkan memutari sepanjang lingkar kolam 2-3 kali. Alhamdulillah, subhanallah, ternyata ayat-ayat-Nya saya dapatkan di kolam renang. Kita zero maka segalanya jadi mudah.

 

Saya mengasosiasikan hal ini dengan kehidupan. Ketika kita akan memasuki suatu masalah yang berat, maka jika kita menghadapinya dengan tenang dan mengosongkan pikiran, niscaya masalah itu akan dihadapi dengan mudah. Silahkan buktikan sendiri. Beberapa kali saya mempraktikkan hal ini. Sebagai seorang jurnalis, tugas saya sering berhadapan dengan hal-hal yang berbau tantangan. Pernah saya diberi tugas mewawancarai seorang Presiden Direktur salah satu bank ternama di Indonesia. Wah, pertama kalinya waktu itu saya merasakan deg-degan dan gugup. Tetapi tiba-tiba saya ingat konsep Zero Mind Proses yang diajarkan ESQ. Saya kosongkan pikiran, ambil nafas dalam-dalam dan tetap yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan. Dan ketika menjalaninya, dengan disaksikan oleh para staf  Direktur tersebut alhamdulillah proses wawancara berlangsung lancar. Bahkan sang Dirut merasa sangat senang diwawancarai dan hingga kini saya tetap berkomunikasi dengannya.

 

Yah, hukum alam berlaku di mana-mana. Tidak hanya di kolam, tetapi anda juga akan menemukannya dalam kehidupan sehari-hari.


Blog EntryMau Puding Es Kelapa Kopyor?Oct 25, '07 8:21 AM
for everyone
Es Puding Kelapa Kopyor

Bahan
1 buah kelapa muda, ambil air dan parut kelapanya, kemudian masukkan kulkas
1 biji selasih secukupnya (1 ons)
2 bks agar-agar warna merah atau hijau (sesuai selera)
500 ml santan kental (dari 1 buah kelapa)
1/2 kg gula pasir
1 bongkah es batu

Cara membuat :
1. Campurkan agar-agar, gula, santan didihkan
2  Siapkan wadah (panci besar dan bongkahan es batu).
3. Dinginkan agar-agar yg sudah masak di bawah kipas angin sambil dicentong satu persatu di atas bongkahan es batu (alirkan agar2 dari atas kebawah hingga cairan langsung membeku)
4. Setelah semua agar-agar habis di bekukan, aduk agar tidak saling menyatu, kemudian masukkan air kelapa dan biji selasih.
5. Tambahkan es batu sisa bongkahan yang sudah hancur (jijka diinginkan)
6. Siap disajikan



Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.