Hmm,…ajang pameran komputer bener2 bikin orang mabuk kepayang. Sebagai pengidam laptop sejak beberapa tahun lalu, pameran komputer akbar 11-15 Juni lalu jadi momen penting buatku. Pasalnya, aku berhasil mewujudkan impianku memiliki benda kecil tapi cerdas itu.
Menyaksikan teman-teman dikantor punya laptop mini berlayar 7 inch merk Asus 4 GB, Rp 4 juta sekian, aku begitu tertarik dan terinspirasi untuk memilikinya juga. Mengingat aku begitu membutuhkan alat itu untuk menjembatani inspirasiku ke dalam tulisan. Dan yg paling penting lagi harganya murah, ukurannya pun kecil, jadi bisa mobile.
Tapi, ternyata tidak mudah, kawan. Meski harga murah, toh waktu itu aku tak mampu membelinya sama sekali. Tabunganku sendiri tidak cukup. Akhirnya aku menunggu masa itu tiba. Aku kumpulkan tabungan sedikit demi sedikit demi mencapai impianku itu. Mulai menabung hingga usaha pinjam ke koperasi.
Dan pada pameran bulan April lalu, aku belum bisa membelinya juga. Pertama karena tabungan juga belum cukup, kedua, karena aku mendengar informasi akan ada pameran komputer yang lebih heboh dengan teknologi yang lebih canggih di bulan Juni. Akhirnya aku menunggu momen itu tiba. Dan, aku hanya gigit jari menyaksikan salah seorang teman membeli laptop TOSHIBA seharga 6 juta. Hmm, merk keren tapi harga murah. ”Yah insya Allah aku akan beli laptop impianku bulan Juni nanti, ” pikirku saat itu.
Seorang sahabat dekatku menyarankan lebih baik membeli laptop yang bagus speknya meski harga sedikit tinggi. Dia bertanya, mau laptop yang kecil atau yang bagus? Aku bisa menangkap pertanyaannya itu (maksudnya, laptop kecil dengan spek biasa dan harga murah itu bukan termasuk laptop yang bagus kualitasnya). Tapi waktu itu aku kekeuh dan bilang ke sahabatku itu, aku ingin laptop yang kecil. Jawabanku ini berdasarkan keinginanku semula bahwa aku ingin laptop yang simple buat mobile.
Akhirnya moment itu tiba, pada 11-15 Juni. Aku jajaki dan tanya setiap sudut pameran. Dan aku terpesona dengan berbagai tawaran laptop, dari berbagai merk dan spek. Hmm, tapi aku balikkan lagi ke niat semula. Aku ingin laptop yang simple, ukuran kecil tapi harga murah dan spek lumayan. Ternyata di pameran itu, banyak ketemui laptop sesuai yang kuharapkan, Asus layar 7 inch, harga 3-4 juta, hanya saja prosessor type celeron. Bahkan sahabatku tadi juga sempat memberi informasi, kalau di Point Square juga ada type tersebut dengan harga murah, Rp 3,75 merk Asus dan 3, 3 merk Axioo. Nah lho...
Ada tawaran yang lebih menggiurkan....
Ternyata, ???!!
Setelah keliling-keliling tanya sana tanya sini, aku malah ga konsisten. Pasalnya, dari hasil keliling2 itu, aku banyak mendapat masukan. Selain mendapat masukan dari para penjaga stand tentang type dan merk2 masing2, aku juga jadi tahu ternyata type yang kuinginkan itu belum tentu spek dan kualitasnya bagus juga belum tentu tahan lama, meskipun harganya lebih murah. Dan, akhirnya, disitulah aku baru sadar dan saran sahabatku itu terbukti, kalau memilih laptop itu lebih baik yang bagus sekalian. Meskipun harganya lebih mahal sedikit. Tapi untuk kualitas jangka panjang, tak jadi soal. Akhirnya, dimoment terakhir aku bingung dan hampir memutuskan untuk tidak memilih sama sekali, aku memberanikan diri memilih dengan pertimbangan : spek bagus, merk kualitas internasional, dan ukuran tetap kecil dan ringan juga harga tidak terlalu mahal. Jatuhlah pilihan pada Acer intel dual core, RAM 512, 160 HDD, Rp 7,1 Juta! Pilihan ku itu dengan konsekuensi mengalahkan keinginan mendapat bonus ini itu (printer, speaker dan flashdisk) dari merk2 lokal seperti Axioo, A note dll.
Hmm.. dari memilih laptop ini, sepertinya juga jadi gambaran kasar bagaimana memilih pasangan hidup. Artinya, jangan hanya karena body dan harga murah, kita langsung memutuskan untuk memilihnya tanpa mempertimbangkan kualitas. Jangan hanya melihat tampang dan penampilan, kita langsung jatuh cinta dan memutuskan kalau dialah pasangan hidup yang kita inginkan. Ternyata, kualitas (agama dan visi jangka panjang hidup berumahtangga) juga perlu dipertimbangkan. Demi keutuhan hidup di masa depan tentunya.
Pondok pinang, 16 Juni 2008