”Ide liburan ke tasik?” Aaah kurang seru, kurang greget, kurang nonjok..dan seterusnya dan seterusnya. Pasalnya, seperti ide sebelumnya bersama teman-teman kantor, aku sangat berharap untuk bisa pergi ke Anyer, menikmati indahnya pantai dan outbond yang disediakan. Hanya saja, karena tempatnya full booking, bosku menyarankan untuk berlibur ke Tasikmalaya. Disamping, dekat, budgetnya juga tidak terlalu mahal.
Awal sebelum jalan-jalan, aku pesimis banget. “Yah..Tasik, jauuuh,” kataku dalam hati. Aku yang sudah pernah merasakan lamanya berpergian ke Tasik itu merasa tidak interest untuk menyetujuinya. Akhirnya, setelah kesepakatan bersama, jadi juga kami pergi ke sana. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu 6 jam lebih. Supir bus yang menyetir dengan ugal-ugalan membuat perjalananku tampak tidak menyenangkan. Perut mual kepala pusing. Namun, perjalanan yang melelahkan itu berakhir juga ketika kami tiba di desa Sindang Galih.
Di desa Sindang Galih, kami di ajak ke Saung Bu Ade. Melihat saung bu Ade di tengah kolam rasa pesimisku perlahan sirna. Saung itu dikelilingi sawah-sawah hijau. ”Hmm..segar juga pemandangannnya.” batinku. Apalagi setelah menyantap hidangan yang disuguhkan. ”Subhanallah.....masakannya juga enak banget. Sambil makan, aku memperhatikan Bu Ade dan kerabat sekitar sangat sibuk menghidang dan melayani kami bak tamu agung. Mereka sangat ramah dan suasana jadi penuh kekeluargaan.
Esoknya, perjalanan dimulai dengan menyusuri pematang sawah menuju Gunung Cabe. Subhanallah, hamparan padi yang menghijau ..membuat mata jadi segar.” Aku sudah lama tidak menikmati pemandangan seperti ini. Suasana alam seperti ini yang kurindukan. ” Setelah sekitar 15 menit, kami sampai di Gunung Cabe. Disitu, sekali lagi terhampar pemandangan alam pegunungan yang indah dan menyegarkan mata. ”Hmm ternyata ga nyesel ke Tasik, ” batinku. Sambil menikmati Surabi dan Bandros, makanan khas Tasik, kami mendengarkan uraian mengenai pengobatan tradisional dari Ustad Lukman Sudjani. Pak Haji –begitu ustad Lukman dipanggil- sudah berpengalaman dalam mengobati penyakit bahkan pernah diminta mengobati hingga ke Yaman. Dari uraian Pak Haji, aku mengetahui sedikit tentang pengobatan tradisional. Ternyata di alam ini sudah tersedia obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit.
Lebih lanjut, dari Gunung Cabe kami langsung bertolak ke Gunung Galunggung. Tujuan kami adalah : Kawah Baru dengan menyusuri 620 anak tangga! Awalnya, aku sempat takut dan khawatir tidak bisa sampai ke atas. Namun, perlahan-lahan (sambil berfoto-foto narsis ria) tak terasa sampai juga kami di puncak kawah. Dan, yang lebih mencengangkan adalah pemandangan kawah dengan danau yang indah. Di dalam kawah itu terdapat danau berwarna hijau berbentuk pulau. Subhanallah ...aku menghirup udara sedalam-dalamnya. ”Hmm segar sekali.” Saat itu, pikiranku tenang dan darahku mengalir lancar. Dari situ, dapat dilihat pemandangan seantero kota Tasikmalaya. Menyaksikan kebesaran-Nya yang terhampar di alam, aku terpana dan berkali-kali berzikir, Subhanallah. Dan kini, rasa pesimis untuk pergi ke Tasik benar-benar pupus. ”Wah ini sih ga rugi kesini. Malah sepertinya ga mau pulang, ” batinku lagi.
Apalagi, setelah itu merasakan pemandian air panas di Cipanas. ”Hmm air panas yang mengalir di tubuh membuat rileks otot dan pikiran. Rasanya penat yang bertahun-bertahun langsung hilang.” Benar-bener ga nyesel,” kataku lagi.
Setelah itu, kami digiring untuk memancing ikan di kolam. Wah, seru juga ya baru mancing dapet ikan. Ada kepuasan tersendiri rasanya. Begitu pula teman-teman yang lain, tampak menikmati aktivitas yang sangat jarang kami lakukan ketika di Jakarta itu. Bahkan, temanku Hanafi dapat 10 ikan. Dan dia tampaknya sangat ketagihan sampai-sampai setelah sampai di penginapan, masih melanjutkan memancing dikolamnya Bu Ade.
Yahh..intinya, persepsi ku tentang ide liburan ke Tasik kurang seru salah besar. Ide ke Tasik ternyata sangat cerdas! Bukan hanya refreshing, tapi juga belajar banyak. Bagaimana belajar fokus di pematang sawah, bagaimana bisa bersyukur dengan alam, juga yang tak kalah pentingnya meniru kesabaran dan keramahtamahan milik penduduk desa Sindang Galih. Luar biasa! Tasikmalaya...wait me there again....
27-29 Juni 2008