| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Mendeskripsikan novel ke dalam film bukan hal yang mudah ternyata. Apalagi novel best seller Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman el Shirazy yang fenomenal. Novel ini cukup mengundang interest tidak hanya dikalangan pecinta novel islami. Tapi, cukup menarik pangsa yang luas, tidak hanya kalangan muda, namun juga hingga ke orangtua.
Fenomena itu kemudian merambat hingga menarik untuk difilmkan. Namun, dalam perjalanannya, ternyata sang sutradara, Hanung Bramantyo pun merasa kesulitan. Tidak hanya Dari segi penokohan, tapi pengambilan tempat novel ini juga bermasalah. Biasa, birokrasi negeri Mesir cukup rumit.
Cukup di acungi jempol, akhirnya, mas Hanung berhasil juga menyutradai film ini plus melewati berbagai rintangannya. Sebelum tayang, film ini pun mengundang rasa penasaran yang tinggi dari para pencintanya. Akhirnya, tgl 25 Februari lalu, film ini diputar.
Awal penayangannya, seting padang pasir ditampilkan. Kemudian, seting suasana flat Fahri bersama teman-temannya. Mungkin yang sangat mengganggu Sequel pertama film ini sangat terburu-buru menampilkan karakter Fahri sebagai idola, tanpa kekuatan. Penonton jadi cenderung bertanya-tanya, kenapa Fahri jadi idola? Sejauh manakah kharismanya sehingga Maria, Nurul, Naura dan Aisha begitu terkesima dengannya?
Kemudian, dari segi karakter tokoh. Karakter mereka sebagai tokoh utama kurang kuat. Seperti disebutkan sebelumnya, Fahri belum menunjukkan keistimewaan sebagai Fahri yang diceritakan di novel. Begitupun, Aisha. Begitupun kisah perkawinan mereka terlalu cepat prosesnya.
Dan yang sangat disesalkan, ide poligami dalam film ini begitu kentara. Ini menimbulkan bias dari cerita novel itu sendiri, yang menekankan sosok Fahri sangat mengutamakan cintanya pada Aisha, dan menikah dengna Maria adalah sebuah keterpaksaan untuk menyelamatkan dirinya dari tuduhan.
Selanjutnya, adalah masalah teknis baik segi logat bahasa Arab serta editing yang kurang. Karena di beberapa layar bioskop masih terlihat sedikit tampilan mike yang cukup mengganggu.
Terlepas dari semua evaluasi di atas, film ini sangat apresiatif dan menarik. Terutama saat persidangan Fahri dengan back sound yang mendebarkan, cukup menegangkan. Juga backing vokal lagu lantunan Rossa menambah kekuatan tampilan hingga membuat air mata menetes. Sekali lagi, memang tidak mudah mendeskripsikan tulisan ke dalam sebuah film. Itu sangat terkait dengan keterbatasan. Secara umum, salut buat mas Hanung atas jerih payahnya. Ditunggu karya-karya selanjutnya!
 | semalam aku sms an sama chaerul Umam, dia bilang tidak mau menonton filmnya karena takut kecewa. Dia terlanjur mengagumi novelnya
|
 | o ya ...ya begitulah sikap dari untuk seorang sutradara senior |
 | Untuk pengarang novel...ga usah comment, sudah tergambar bagaimana seorang Kang Abik dalam pemahaman agamanya. Buat mas Hanung, terlepas dari kekurangan2nya, salut dia berhasil meredam efek yang bisa menimbulkan perpecahan umat agama, khususnya umat kita, islam dengan kristen.... |
| |
|